Cerpen Terlanjur Sayang
TERLANJUR SAYANG
Sebuah Cerpen
Romansa Penuh Drama dan Emosi
Oleh: Slamet Riyadi
Senja turun perlahan di atas Kota
Kuala Kapuas.
Langit di ufuk barat berwarna jingga
kemerahan, memantulkan cahaya lembut di permukaan Sungai Kapuas Murung. Angin sore
berembus pelan, membawa aroma air sungai dan tanah basah yang selalu
mengingatkan Susanti pada rumah.
Dari teras rumahnya di sebuah
lingkungan sederhana di Kuala Kapuas, Susanti duduk sambil memeluk lutut.
Matanya tidak benar-benar memandang ke arah sungai, meskipun pandangannya telah
lama tertuju ke sana.
Pikirannya sedang berada di tempat lain.
Atau, lebih tepatnya, pada seseorang.
Andika.
Nama itu kembali hadir, seperti biasanya.
Tidak pernah benar-benar pergi.
Susanti menarik napas panjang.
“Kenapa harus dia?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu sudah terlalu sering ia tanyakan kepada
dirinya sendiri.
Namun, seperti semua pertanyaan yang
berhubungan dengan hati, tidak pernah ada jawaban yang benar-benar mampu
menenangkan.
Di dalam rumah, ibunya, Bu Ratna, sedang
menyiapkan makan malam.
“Santi!” panggil ibunya.
“Iya, Bu.”
“Masuk. Sebentar lagi Magrib.”
Susanti tidak segera menjawab. Ia masih memandang jalan
kecil di depan rumah.
Jalan itu tidak ramai.
Namun, bagi Susanti, setiap suara kendaraan yang melintas
selalu mampu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia seperti berharap.
Dan sekaligus takut.
Berharap Andika datang.
Takut jika Andika benar-benar datang.
“Santi!” panggil ibunya sekali lagi.
“Iya, Bu. Sebentar.”
Bu Ratna keluar dari pintu rumah.
Ia memandang anak perempuannya dengan wajah penuh
pengertian.
“Masih menunggu dia?”
Susanti tersentak.
“Siapa?”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Kamu pikir Ibu tidak tahu?”
Susanti menundukkan kepala.
“Aku tidak menunggu siapa-siapa.”
“Kalau begitu, kenapa dari tadi matamu terus melihat
jalan?”
Susanti tidak menjawab.
Bu Ratna duduk di samping anaknya.
Beberapa saat, mereka hanya diam.
“Apa dia membuatmu sedih lagi?”
Pertanyaan itu membuat Susanti menggigit bibir.
“Tidak.”
“Kamu berbohong.”
“Bu…”
“Santi.”
Suara Bu Ratna melembut.
“Sejak kecil, Ibu tahu kapan kamu sedang baik-baik saja
dan kapan kamu hanya berpura-pura.”
Susanti akhirnya menatap ibunya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa mencintai seseorang bisa sesulit ini, Bu?”
Bu Ratna terdiam.
“Karena tidak semua orang yang kita cintai datang pada
waktu yang tepat.”
Susanti tersenyum pahit.
“Kalau memang begitu, kenapa Tuhan mempertemukan kami?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab.
“Kadang,” katanya perlahan, “pertemuan bukan selalu
berarti memiliki.”
Susanti kembali menatap jalan.
“Itu yang paling menyakitkan, Bu.”
Susanti mengenal Andika sejak dua tahun yang lalu.
Pertemuan pertama mereka sebenarnya biasa saja.
Tidak ada hujan.
Tidak ada tabrakan.
Tidak ada peristiwa dramatis seperti yang sering
terjadi dalam cerita-cerita cinta.
Mereka hanya bertemu di sebuah kegiatan sosial
masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.
Andika saat itu datang bersama sahabatnya, Rian
dan Bimo, untuk membantu kegiatan kerja bakti.
Susanti datang bersama dua sahabatnya, Maya dan Nina.
Andika dikenal sebagai pemuda yang cukup disegani di
lingkungannya.
Ia bukan anak orang kaya.
Ayahnya, Pak Haryono, adalah seorang pensiunan
pegawai negeri, sedangkan ibunya, Bu Sulastri, mengelola usaha kecil di
rumah.
Andika bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kuala
Kapuas.
Ia dikenal ramah.
Terlalu ramah, menurut Maya.
“Laki-laki itu berbahaya,” kata Maya suatu hari.
Susanti mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Karena dia terlalu baik.”
Susanti tertawa.
“Baik kok berbahaya?”
“Yang terlalu baik itu biasanya membuat banyak
perempuan salah paham.”
“Tidak semua perempuan seperti itu.”
Maya memandang Susanti dengan tajam.
“Termasuk kamu?”
Susanti terdiam.
Maya tertawa kecil.
“Nah, kan.”
“Apaan, sih.”
“Jangan bilang kamu tidak suka sama Andika.”
Susanti mengalihkan pandangan.
“Aku cuma menganggap dia teman.”
“Teman?”
“Iya.”
“Kenapa kalau dia datang kamu langsung merapikan
rambut?”
“Aku tidak pernah begitu.”
“Kenapa kalau namanya disebut kamu diam?”
Susanti semakin kesal.
“Kamu terlalu banyak memperhatikan aku.”
“Karena aku sahabatmu.”
Saat itu Susanti belum mau mengakui apa yang mulai
tumbuh di dalam hatinya.
Ia menganggap perasaan itu hanya kekaguman.
Lalu berubah menjadi kenyamanan.
Kemudian menjadi kebiasaan.
Sampai akhirnya, tanpa ia sadari, Andika menjadi
seseorang yang selalu ingin ia dengar kabarnya.
Setiap pagi, mereka bertukar pesan.
Setiap malam, mereka berbicara.
Membicarakan pekerjaan.
Keluarga.
Masa lalu.
Mimpi.
Ketakutan.
Bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Namun, dari hal-hal kecil itulah semuanya bermula.
Susanti mengenal suara Andika ketika sedang bahagia.
Ia tahu kapan laki-laki itu sedang lelah.
Ia tahu kapan Andika sedang berpura-pura baik-baik
saja.
Begitu pula Andika.
Atau setidaknya, Susanti pernah berpikir demikian.
Sampai suatu hari, Andika berkata sesuatu yang membuat
seluruh keyakinannya berubah.
“Santi, aku harus bicara.”
“Kamu kenapa?”
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”
Susanti tersenyum.
“Kenapa? Serius sekali.”
Andika terdiam cukup lama.
“Aku mungkin akan menikah.”
Senyum Susanti perlahan menghilang.
Tangannya yang memegang telepon menjadi dingin.
“Apa?”
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Susanti.
Ia duduk sendirian di kamarnya.
Lampu telah dimatikan.
Namun, ia tidak mampu tidur.
Kalimat Andika terus berputar-putar di kepalanya.
Aku mungkin akan menikah.
Dengan siapa?
Pertanyaan itu belum berani ia tanyakan.
Ia takut.
Bukan takut mendengar jawabannya.
Melainkan takut jawabannya akan menghancurkan semua
yang selama ini ia simpan.
Akhirnya Susanti memberanikan diri mengirim pesan.
Dengan siapa?
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada jawaban.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Kemudian teleponnya berbunyi.
Nama Andika muncul di layar.
Susanti menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menerima
panggilan itu.
“Halo.”
Suara Susanti terdengar datar.
“Santi.”
“Dengan siapa?”
Andika terdiam.
“Kamu tidak perlu menjawab kalau tidak mau.”
“Santi…”
“Jawab saja.”
“Namanya Clara.”
Nama itu terdengar asing.
Namun, entah mengapa, Susanti merasa seperti pernah
mendengarnya.
“Clara yang mana?”
“Teman lama.”
“Teman lama?”
“Iya.”
“Lalu?”
“Keluarga kami sudah lama saling mengenal.”
Susanti tertawa kecil.
Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan.
“Jadi, kamu menikah karena keluarga?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku sedang mempertimbangkannya.”
Susanti berdiri dari tempat tidur.
“Mempertimbangkan apa?”
“Santi, jangan membuat semuanya sulit.”
Susanti terdiam.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang Andika
sadari.
“Aku yang membuat semuanya sulit?”
“Maksudku bukan begitu.”
“Lalu apa maksudmu?”
Andika menarik napas.
“Kamu tahu keluargaku sudah lama menginginkan aku
menikah.”
“Lalu?”
“Aku juga sudah tidak muda lagi.”
“Jadi?”
“Aku harus memikirkan masa depan.”
Susanti tertawa lagi.
Kali ini air matanya mulai jatuh.
“Masa depan?”
“Santi…”
“Selama ini, aku ini apa dalam hidupmu, Andika?”
Andika terdiam.
Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling
menyakitkan.
Susanti menutup matanya.
“Jawab aku.”
“Aku tidak tahu.”
Susanti membuka matanya.
“Tidak tahu?”
“Aku menyayangimu.”
“Jangan.”
“Santi.”
“Jangan pernah mengatakan itu kalau kamu sendiri tidak
tahu aku ini siapa.”
Andika terdiam.
Susanti melanjutkan.
“Selama dua tahun kita dekat. Kita
bicara setiap hari. Kamu datang ketika aku sedih. Kamu menghilang ketika aku
marah, lalu kembali meminta maaf. Kamu mengenal keluargaku. Aku mengenal
keluargamu.”
Ia berhenti sejenak.
“Lalu sekarang kamu bilang kamu tidak tahu aku ini
siapa?”
“Santi, hubungan kita tidak pernah…”
“Tidak pernah apa?”
“Kita tidak pernah resmi.”
Susanti membeku.
Kalimat itu seperti tamparan.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat seluruh harga dirinya terasa
jatuh.
“Jadi karena kita tidak pernah resmi, semua yang
terjadi di antara kita tidak berarti?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi itu yang kamu maksud.”
“Tidak.”
“Kalau bukan, kenapa kamu bisa berkata seperti itu?”
Andika tidak menjawab.
Susanti mengusap air matanya.
“Aku mengerti sekarang.”
“Santi…”
“Tidak. Sekarang aku benar-benar mengerti.”
“Santi, dengarkan aku.”
“Selamat malam, Andika.”
Susanti menutup telepon.
Lalu menangis.
Untuk pertama kalinya, ia menangis karena seseorang
yang sebenarnya tidak pernah secara resmi menjadi miliknya.
Dan mungkin, itulah bagian yang paling menyakitkan.
Keesokan harinya, Maya datang ke rumah.
Ia langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
“Kamu menangis?”
“Tidak.”
“Matamu bengkak.”
“Kurang tidur.”
“Jangan bohong.”
Susanti akhirnya menceritakan semuanya.
Maya mendengarkan tanpa menyela.
Namun, wajahnya semakin lama semakin serius.
“Jadi dia mau menikah?”
“Mungkin.”
“Dengan perempuan lain?”
Susanti mengangguk.
Maya menghela napas.
“Santi.”
“Apa?”
“Kamu harus menjauh.”
Susanti tersenyum pahit.
“Semudah itu?”
“Iya.”
“Kalau memang mudah, mungkin dari dulu aku sudah
melakukannya.”
“Dia bukan satu-satunya laki-laki di Kuala Kapuas.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu tetap bertahan?”
Susanti memandang sahabatnya.
“Karena aku sudah terlanjur sayang.”
Maya terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun, di dalamnya terdapat seluruh alasan yang selama
ini tidak mampu dijelaskan oleh Susanti.
Terlalu banyak kenangan.
Terlalu banyak percakapan.
Terlalu banyak perhatian.
Terlalu banyak harapan yang diam-diam tumbuh.
Maya duduk lebih dekat.
“Santi, sayang itu bukan alasan untuk terus terluka.”
“Aku tahu.”
“Kalau dia benar-benar sayang, dia tidak akan
membiarkanmu seperti ini.”
Susanti tersenyum.
“Semua orang mudah mengatakan begitu kalau bukan mereka
yang sedang merasakan.”
Maya terdiam.
“Aku tahu aku bodoh.”
“Kamu bukan bodoh.”
“Aku tahu dia bukan milikku.”
Susanti menundukkan kepala.
“Tapi kenapa aku tetap merasa kehilangan?”
Maya tidak mampu menjawab.
Di luar rumah, beberapa warga mulai
berbicara tentang hubungan Susanti dan Andika.
Di lingkungan kecil, kabar selalu
bergerak lebih cepat daripada kendaraan.
Bu Wati, tetangga sebelah rumah, bahkan pernah bertanya langsung kepada Bu
Ratna.
“Anak Ibu sama Andika jadi menikah, ya?”
Bu Ratna hanya tersenyum.
“Belum tahu, Bu.”
Namun, pertanyaan itu membuat Susanti semakin tidak
nyaman.
Ia mulai menyadari bahwa selama ini kedekatannya dengan
Andika bukan hanya diperhatikan oleh keluarganya.
Masyarakat sekitar juga melihat.
Dan ketika seseorang yang sering terlihat bersama
tiba-tiba berjalan ke arah yang berbeda, orang-orang akan selalu bertanya.
Apa yang terjadi?
Masalahnya, Susanti sendiri tidak tahu jawabannya.
Beberapa hari kemudian, Andika datang ke rumah Susanti.
Saat itu sore.
Hujan baru saja berhenti.
Jalanan masih basah.
Susanti sedang membantu ibunya menyusun beberapa barang
ketika suara motor berhenti di depan rumah.
Jantungnya langsung berdebar.
Ia tahu suara motor itu.
“Siapa?” tanya Bu Ratna.
Susanti diam.
Andika masuk ke halaman.
Bu Ratna melihatnya dari dalam rumah.
“Andika.”
Susanti tetap berdiri.
Wajahnya berubah tegang.
Andika menghampiri.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Bu Ratna.
Susanti tidak menjawab.
Andika menatapnya.
“Santi.”
“Ada apa?”
“Kita perlu bicara.”
“Apa lagi yang perlu dibicarakan?”
“Santi.”
“Aku sibuk.”
“Lima menit saja.”
Susanti tertawa sinis.
“Lima menit?”
Andika mengangguk.
“Dulu kamu bisa bicara denganku sampai tengah malam.
Sekarang lima menit pun terasa berat?”
Susanti memandangnya.
“Dulu aku belum tahu kalau ternyata aku hanya seseorang
yang tidak pernah kamu anggap serius.”
Andika terdiam.
Bu Ratna melihat suasana itu.
Ia perlahan masuk ke dalam rumah, memberikan ruang
kepada keduanya.
Andika berdiri beberapa langkah dari Susanti.
“Aku tidak pernah mengatakan kamu tidak berarti.”
“Tapi tindakanmu mengatakan begitu.”
“Aku bingung.”
“Kenapa kamu bingung?”
“Semuanya tidak sesederhana yang kamu pikir.”
Susanti tertawa.
“Selalu begitu.”
“Apa?”
“Setiap laki-laki punya alasan ketika tidak ingin
bertanggung jawab pada perasaan seorang perempuan.”
Andika tersentak.
“Jangan samakan aku dengan orang lain.”
“Kalau begitu, jangan bertindak seperti mereka.”
Andika menghela napas.
“Kamu tidak tahu masalahku.”
“Kamu tidak pernah benar-benar menceritakannya.”
“Aku sedang berusaha.”
“Sudah terlambat.”
Andika menatap Susanti cukup lama.
“Kamu benar-benar ingin aku pergi?”
Susanti menggigit bibir.
Ia ingin menjawab tidak.
Ia ingin mengatakan bahwa sejak beberapa hari terakhir,
ia menunggu Andika datang.
Ia ingin mengatakan bahwa setiap malam ia berharap
teleponnya berbunyi.
Namun, harga dirinya menahannya.
“Kalau kamu datang hanya untuk membuat aku semakin
bingung, lebih baik pergi.”
Andika menundukkan kepala.
Lalu berkata pelan.
“Aku datang karena aku tidak bisa berhenti
memikirkanmu.”
Susanti membeku.
Namun kemudian ia menggeleng.
“Jangan.”
“Santi.”
“Jangan katakan sesuatu yang membuat aku berharap.”
Andika menatapnya.
“Kalau aku sendiri tidak tahu bagaimana hidupku tanpa
kamu, apakah itu membuatmu berharap?”
Air mata Susanti jatuh.
“Justru itu masalahnya, Andika.”
“Apa?”
“Kamu selalu datang ketika aku berusaha pergi.”
Malam berikutnya, perdebatan mereka berlanjut.
Kali ini di sebuah warung kopi sederhana di Kuala
Kapuas.
Tempat itu tidak terlalu ramai.
Namun, cukup banyak orang untuk membuat Susanti merasa
sedikit aman.
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada candaan.
Tidak ada percakapan ringan seperti biasanya.
“Santi,” kata Andika.
“Apa?”
“Aku tidak pernah berniat mempermainkanmu.”
Susanti menatapnya tajam.
“Tidak berniat?”
“Iya.”
“Tapi kamu melakukannya.”
“Aku tidak…”
“Kamu mungkin tidak sadar.”
Andika diam.
Susanti melanjutkan.
“Bagi kamu, mungkin kita hanya dekat.”
“Santi…”
“Tapi kamu pernah berpikir bagaimana perasaanku?”
“Tentu.”
“Tidak. Kalau kamu benar-benar berpikir, kamu tidak
akan membiarkan aku mengenalmu sedalam ini tanpa pernah memberiku kepastian.”
Andika menatap meja.
“Aku takut.”
Susanti terdiam.
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kebebasan.”
Susanti tersenyum pahit.
“Jadi selama ini aku ancaman?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Aku takut gagal.”
“Semua orang takut gagal.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kenapa kamu membiarkan ketakutanmu
membuat aku terluka?”
Andika tidak menjawab.
Susanti menarik napas panjang.
“Dan sekarang ada Clara.”
“Aku belum memutuskan apa-apa.”
“Tapi kamu mempertimbangkannya.”
“Karena keluargaku.”
Susanti tertawa.
“Lagi-lagi keluarga.”
“Ayahku ingin aku segera menikah.”
“Lalu ibumu?”
“Ibu juga.”
“Dan kamu?”
Andika menatapnya.
“Aku tidak tahu.”
Susanti menggeleng perlahan.
“Itulah masalah terbesar kita.”
“Apa?”
“Kamu tidak pernah tahu.”
Andika tersenyum getir.
“Aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Susanti memandangnya cukup lama.
“Lalu kenapa kamu tidak memilihku?”
Pertanyaan itu membuat Andika membisu.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Bahkan suara kendaraan yang melintas terasa jauh.
Susanti tersenyum pahit.
“Nah.”
“Santi…”
“Jawab.”
“Aku tidak tahu.”
Susanti berdiri.
Andika ikut berdiri.
“Santi, duduk dulu.”
“Tidak.”
“Aku belum selesai.”
“Tapi aku sudah.”
Susanti berjalan pergi.
Andika mengejarnya.
“Santi!”
Susanti berhenti.
Andika berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Aku memang pengecut.”
Susanti menoleh.
Andika menundukkan kepala.
“Aku takut mengambil keputusan.”
“Dan karena ketakutanmu, kamu mengorbankan perasaanku.”
Andika tidak bisa membantah.
Susanti mengusap air mata.
“Aku sayang kamu, Andika.”
Andika terdiam.
“Dan mungkin itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Lalu Susanti berjalan pergi.
Di rumah Andika, keadaan tidak jauh lebih tenang.
Pak Haryono sudah mengetahui bahwa anaknya sedang
memiliki masalah.
Malam itu, Andika duduk bersama ayahnya.
“Masalah perempuan?”
Andika tersenyum kecil.
“Ayah tahu?”
“Ayah pernah muda.”
Andika tertawa hambar.
Pak Haryono memandang anaknya.
“Kamu sayang sama siapa?”
Andika tidak langsung menjawab.
“Ada Susanti.”
Pak Haryono mengangguk.
“Yang sering datang ke rumah?”
“Iya.”
“Kamu serius?”
Andika terdiam.
Pak Haryono menghela napas.
“Itu jawabanmu?”
“Aku sayang sama dia.”
“Lalu kenapa tidak kamu nikahi?”
Andika menatap ayahnya.
“Tidak semudah itu.”
“Kenapa?”
Andika terdiam.
Pak Haryono berkata lebih tegas.
“Kadang manusia membuat semuanya rumit karena terlalu
lama berpikir.”
“Ayah tidak tahu.”
“Kalau Ayah tidak tahu, ceritakan.”
Andika menarik napas.
“Aku takut tidak bisa membahagiakan dia.”
Pak Haryono tersenyum tipis.
“Tidak ada laki-laki yang menikah dengan jaminan bisa membahagiakan
istrinya sepanjang hidup.”
“Ayah…”
“Kebahagiaan itu dibangun, bukan dijanjikan.”
Andika menundukkan kepala.
“Lalu Clara?”
Pak Haryono bertanya.
Andika terdiam.
“Jadi memang ada perempuan lain?”
“Bukan begitu.”
“Kalau kamu tidak mencintainya, jangan membuat dia
berharap.”
Andika mengangkat wajah.
“Semua orang mengatakan itu kepadaku.”
“Karena mungkin semua orang melihat sesuatu yang tidak
kamu berani lihat.”
Pak Haryono berdiri.
Sebelum masuk ke kamar, ia berkata,
“Jangan sampai suatu hari kamu menyadari siapa yang
kamu cintai setelah orang itu memilih pergi.”
Kata-kata itu tinggal di kepala Andika.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai membayangkan hidup
tanpa Susanti.
Tidak ada pesan pagi.
Tidak ada suara yang menanyakan apakah ia sudah makan.
Tidak ada seseorang yang memarahinya ketika pulang
terlalu malam.
Tidak ada seseorang yang mengetahui bahwa di balik
sikap tenangnya, ia sebenarnya mudah merasa kesepian.
Andika menutup mata.
Dadanya terasa sesak.
Saat itulah ia sadar.
Mungkin selama ini ia bukan tidak tahu.
Ia hanya takut mengakui.
Namun, ketika seseorang terlambat menyadari
perasaannya, keadaan sering kali telah berubah.
Susanti mulai menjauh.
Ia berhenti membalas pesan.
Ia tidak lagi menunggu telepon.
Bahkan ketika Andika menghubunginya, Susanti hanya
menjawab seperlunya.
Suatu malam, Andika datang ke rumah Maya.
Ia berharap Maya dapat membantunya.
Namun, begitu Maya melihat Andika, wajahnya langsung
berubah.
“Kamu ngapain ke sini?”
“Aku mau bicara.”
“Dengan aku?”
“Dengan Santi.”
“Dia tidak di sini.”
“Jangan bohong.”
Maya memandangnya tajam.
“Kalau pun dia ada di sini, aku tidak akan membiarkan
kamu masuk.”
Andika menghela napas.
“Maya, tolong.”
“Untuk apa?”
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Maya tertawa sinis.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Setelah kamu membuat dia menangis?”
Andika diam.
“Kamu tahu berapa malam dia tidak bisa tidur?”
Andika menundukkan kepala.
“Kamu tahu bagaimana sulitnya dia menjawab pertanyaan
orang-orang?”
“Maya…”
“Semua orang di lingkungan sudah tahu kalian dekat.”
Andika terdiam.
“Lalu sekarang kamu datang dan mengatakan ingin
memperbaiki semuanya?”
“Aku sayang sama dia.”
Maya mendekat.
“Kalau benar, buktikan.”
“Bagaimana?”
“Jangan hanya datang membawa kata-kata.”
Andika mengangguk.
“Baik.”
Maya kembali masuk ke rumah.
Namun, sebelum pintu ditutup, ia berkata,
“Andika.”
Andika menoleh.
“Santi terlalu sayang sama kamu.”
Andika terdiam.
“Itu sebabnya aku takut.”
Pintu tertutup.
Andika berdiri sendirian.
Kata-kata Maya membuatnya semakin sadar.
Perasaan Susanti bukan masalah kecil.
Bukan sesuatu yang bisa datang dan pergi sesuka hati.
Susanti telah memberikan hatinya.
Dan selama ini, Andika menerimanya tanpa benar-benar
berani mengatakan apa yang akan ia lakukan dengan hati itu.
Beberapa minggu kemudian, kabar tentang Clara semakin
terdengar.
Seseorang melihat Andika makan bersama Clara.
Seseorang yang lain mengatakan keluarga mereka mulai
membicarakan pernikahan.
Kabar itu sampai kepada Susanti.
Nina datang dengan wajah cemas.
“Santi.”
“Apa?”
“Kamu sudah dengar?”
Susanti tersenyum.
“Kalau tentang Andika, aku tidak ingin tahu.”
“Tapi…”
“Nina.”
“Baik.”
Namun, wajah Nina sudah mengatakan semuanya.
Susanti menghela napas.
“Mereka jadi?”
Nina terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Susanti tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Santi.”
“Aku baik-baik saja.”
Nina menggenggam tangan sahabatnya.
“Kamu tidak harus pura-pura.”
Susanti memejamkan mata.
“Aku capek.”
Nina terdiam.
“Aku capek berharap.”
Suara Susanti mulai bergetar.
“Aku capek menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah
yakin kepadaku.”
Malam itu, Susanti pergi berjalan sendiri.
Ia melewati jalan-jalan yang sering dilaluinya bersama
Andika.
Setiap tempat seperti menyimpan kenangan.
Di sebuah warung kecil, ia teringat ketika Andika
pernah berkata bahwa kopi di tempat itu adalah yang paling enak.
Di sebuah taman, ia teringat Andika pernah tertawa
karena ia takut pada kucing liar.
Di tepi sungai, ia teringat ketika Andika pernah
berkata,
“Kalau suatu hari kita tidak lagi seperti sekarang,
jangan benci aku.”
Saat itu Susanti hanya tertawa.
Sekarang ia memahami arti kalimat itu.
Mungkin Andika telah mengetahui sesuatu yang tidak ia
ketahui.
Mungkin sejak awal, laki-laki itu memang tidak pernah
yakin untuk tinggal.
Air mata Susanti jatuh.
“Aku tidak benci kamu,” bisiknya.
Ia menatap langit.
“Aku hanya berharap aku tidak pernah terlalu
mencintaimu.”
Pertemuan mereka kembali terjadi secara tidak sengaja.
Atau mungkin, takdir memang belum selesai mempermainkan
keduanya.
Malam itu ada acara masyarakat di lingkungan mereka.
Andika datang bersama Rian dan Bimo.
Susanti datang bersama orang tuanya.
Mereka melihat satu sama lain.
Namun, tidak ada yang mendekat.
Sampai akhirnya Andika melihat seorang laki-laki
berbicara dengan Susanti.
Namanya Fajar.
Ia adalah seorang pemuda yang cukup dikenal di lingkungan
mereka.
Fajar ramah.
Dan malam itu, ia membuat Susanti tertawa.
Andika tidak menyukai pemandangan itu.
Rian memperhatikannya.
“Kamu cemburu?”
Andika menatap sahabatnya.
“Tidak.”
“Bohong.”
“Aku cuma…”
“Cemburu.”
Andika menghela napas.
Rian tersenyum.
“Baru sadar?”
“Diam.”
“Kalau kamu masih begini, kenapa tidak bicara?”
“Aku tidak tahu apakah dia masih mau mendengarkan.”
“Kalau tidak mencoba, kamu tidak akan pernah tahu.”
Beberapa saat kemudian, Andika menghampiri Susanti.
Fajar melihatnya.
“Oh, ini Andika, ya?”
Susanti terlihat tidak nyaman.
“Iya.”
Andika mengangguk.
“Halo.”
“Halo,” jawab Fajar.
“Aku pernah dengar tentang kamu.”
Andika memandang Susanti.
Susanti langsung memahami maksud kalimat itu.
“Fajar teman.”
Andika mengangguk.
“Bagus.”
Susanti memandangnya tajam.
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada.”
“Jangan mulai.”
“Aku tidak mulai apa-apa.”
“Kamu datang ke sini lalu melihat aku bicara dengan
orang lain seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seolah-olah kamu punya hak.”
Andika terdiam.
Fajar merasa tidak nyaman.
“Aku tinggal dulu.”
Susanti mengangguk.
Setelah Fajar pergi, Susanti menatap Andika.
“Kamu tidak berhak cemburu.”
Andika memandangnya.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa wajahmu seperti itu?”
Andika menarik napas.
“Karena aku memang cemburu.”
Susanti terdiam.
“Dan aku benci perasaan itu.”
“Kenapa?”
“Karena aku sadar aku tidak punya hak.”
Susanti tersenyum pahit.
“Akhirnya kamu mengerti.”
Andika menatapnya.
“Aku menyesal.”
“Sudah terlambat.”
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku belum berhenti berjuang.”
Susanti tertawa.
“Berjuang?”
“Iya.”
“Dua tahun aku menunggu kamu berjuang.”
Andika membeku.
“Sekarang ketika aku mulai berusaha pergi, kamu baru
ingin datang?”
Andika tidak bisa menjawab.
Susanti melanjutkan.
“Begitu mudahnya kamu mengatakan cinta ketika takut
kehilangan.”
Beberapa hari setelah acara itu, Andika datang ke rumah
Susanti.
Kali ini, ia meminta izin kepada Pak Sutrisno,
ayah Susanti.
Pak Sutrisno adalah seorang laki-laki sederhana yang
dikenal cukup tegas.
“Andika ingin bicara dengan Santi,” katanya.
Pak Sutrisno memandangnya cukup lama.
“Kamu serius?”
Andika mengangguk.
“Serius.”
“Serius tentang apa?”
Andika terdiam sesaat.
“Hubungan saya dengan Santi.”
Pak Sutrisno menghela napas.
“Kalian sudah terlalu lama membuat hubungan yang tidak
jelas.”
Andika menundukkan kepala.
“Saya tahu, Pak.”
“Anak perempuan saya sudah cukup dewasa.”
“Saya tahu.”
“Kalau kamu datang hanya untuk membuat dia bingung
lagi, lebih baik jangan masuk.”
Andika mengangkat wajah.
“Saya tidak ingin melukai dia lagi.”
Pak Sutrisno memandangnya.
“Tidak ingin berbeda dengan tidak akan.”
Andika terdiam.
Pak Sutrisno kemudian berkata,
“Masuklah.”
Susanti duduk di ruang tamu ketika Andika masuk.
Ia tidak menyangka ayahnya akan memberikan izin.
“Kamu mau apa?”
Andika duduk.
“Aku ingin meminta maaf.”
Susanti tersenyum kecil.
“Kamu sudah berkali-kali meminta maaf.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku ingin meminta kesempatan.”
Susanti terdiam.
“Kesempatan untuk apa?”
“Untuk membuktikan bahwa kali ini aku serius.”
Susanti memandangnya lama.
“Kamu sudah memutuskan tentang Clara?”
Andika mengangguk.
“Sudah.”
“Dan?”
“Aku tidak akan menikah dengannya.”
Susanti menarik napas.
“Karena aku?”
“Karena aku tidak mencintainya.”
“Jangan jawab pertanyaanku dengan cara lain.”
Andika terdiam.
“Karena aku?” ulang Susanti.
Andika menatapnya.
“Ya.”
Susanti menggeleng.
“Aku tidak mau menjadi alasan kamu meninggalkan
seseorang.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku akhirnya sadar kalau selama ini aku hanya mencoba
memilih jalan yang paling mudah.”
Susanti diam.
“Clara adalah pilihan yang aman.”
“Dan aku?”
Andika menatapnya.
“Kamu adalah orang yang benar-benar aku cintai.”
Air mata Susanti kembali jatuh.
Namun kali ini bukan hanya karena bahagia.
Ada luka yang masih belum sembuh.
“Aku takut mempercayaimu.”
Andika mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Aku takut kamu berubah lagi.”
“Aku mengerti.”
“Aku takut suatu hari kamu kembali mengatakan bahwa
kamu tidak tahu.”
Andika menundukkan kepala.
“Aku mengerti.”
Susanti menangis.
“Lalu kenapa kamu masih datang?”
Andika menjawab pelan.
“Karena aku lebih takut hidup tanpa kamu.”
Susanti tidak langsung menerima Andika.
Hari-hari berikutnya tetap berjalan.
Andika mulai datang ke rumah.
Bukan untuk memaksa.
Ia membantu Pak Sutrisno.
Berbicara dengan Bu Ratna.
Menjalin kembali hubungan dengan keluarga Susanti.
Masyarakat mulai memperhatikan.
Ada yang mendukung.
Ada yang mencibir.
“Paling nanti putus lagi.”
“Sudah lama juga tidak jelas.”
“Kasihan Susanti.”
Kata-kata itu sampai kepada Susanti.
Namun, kali ini ia mulai belajar bahwa hidupnya tidak
dapat dibangun berdasarkan pendapat semua orang.
Suatu sore, Bu Ratna berkata,
“Kamu masih sayang sama dia?”
Susanti tersenyum.
“Ibu sudah tahu jawabannya.”
Bu Ratna menghela napas.
“Kalau begitu kenapa kamu masih menolak?”
“Karena sayang tidak cukup.”
Bu Ratna terdiam.
Susanti melanjutkan.
“Aku butuh percaya lagi.”
“Itu tidak mudah.”
“Aku tahu.”
“Kamu masih marah?”
“Masih.”
“Kamu masih terluka?”
“Masih.”
“Kamu masih ingin dia?”
Susanti menunduk.
“Iya.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Kalau begitu, jangan berbohong pada hatimu.”
Susanti memandang ibunya.
“Tapi bagaimana kalau aku terluka lagi?”
Bu Ratna menggenggam tangannya.
“Tidak ada yang bisa menjamin cinta tidak akan
menyakiti.”
Susanti diam.
“Tapi jangan sampai ketakutan membuatmu kehilangan
kesempatan untuk bahagia.”
Malam itu, Susanti memikirkan kata-kata ibunya.
Ia sadar bahwa selama ini ia menunggu sebuah kepastian.
Namun, ketika kepastian itu akhirnya datang, ia justru
takut menerimanya.
Mungkin cinta memang seperti itu.
Ketika terlalu lama terluka, kebahagiaan pun bisa
terasa menakutkan.
Suatu malam, Andika mengajak Susanti bertemu.
Mereka kembali duduk di tempat yang hampir sama ketika
dahulu mereka pernah berdebat.
Namun kali ini, suasananya berbeda.
Andika membawa sebuah kotak kecil.
Susanti langsung memandangnya.
“Apa itu?”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Susanti tersenyum.
“Syukurlah.”
Andika tertawa kecil.
“Aku belum seberani itu.”
“Setidaknya kamu jujur.”
Andika membuka kotak itu.
Di dalamnya ada sebuah gelang sederhana.
Susanti memandangnya.
“Untuk aku?”
Andika mengangguk.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kalau aku memberimu sesuatu, apakah kamu akan
mengembalikannya?”
“Tidak tahu.”
Andika tersenyum.
“Kalau begitu, jangan diterima dulu.”
Susanti tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa mereka
terasa seperti dulu.
Namun kemudian Andika menjadi serius.
“Santi.”
“Ya?”
“Aku tidak bisa menghapus semua kesalahanku.”
Susanti diam.
“Aku juga tidak bisa meminta kamu melupakan semuanya.”
Andika memandangnya dengan sungguh-sungguh.
“Tapi aku ingin memulai lagi.”
Susanti menatapnya.
“Dari awal?”
“Dari awal.”
“Sebagai teman?”
Andika tersenyum.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Sebagai dua orang yang sama-sama tahu apa yang mereka
inginkan.”
Susanti terdiam.
“Aku ingin kamu.”
Jantung Susanti kembali berdebar.
“Tapi kali ini,” lanjut Andika, “aku tidak akan
memintamu menjawab sekarang.”
Susanti menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena selama ini aku terlalu banyak meminta kamu
menunggu.”
Andika menundukkan kepala.
“Sekarang, biarkan aku yang menunggu.”
Susanti memejamkan mata.
Ada sesuatu yang perlahan mencair di dalam hatinya.
Bukan luka.
Bukan kemarahan.
Melainkan dinding yang selama ini ia bangun untuk
melindungi dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka perlahan
berubah.
Tidak ada lagi hubungan tanpa nama.
Tidak ada lagi pesan yang hanya dianggap sekadar
kebiasaan.
Andika mulai melibatkan Susanti dalam rencana hidupnya.
Ia memperkenalkan kembali Susanti kepada keluarganya
dengan cara yang berbeda.
Bukan hanya sebagai “teman”.
Bu Sulastri tersenyum ketika melihat keduanya datang.
“Santi.”
“Iya, Bu?”
“Kamu masih mau sama anak saya?”
Susanti tertawa.
Pertanyaan itu membuat Andika tersenyum malu.
“Bu…”
“Apa? Ibu serius.”
Susanti memandang Andika.
“Kadang masih bingung, Bu.”
Bu Sulastri tertawa.
“Bagus. Jangan terlalu cepat percaya.”
“Bu!” protes Andika.
Semua tertawa.
Di rumah Susanti, suasana pun mulai berubah.
Pak Sutrisno tetap tegas.
Namun, ia mulai melihat kesungguhan Andika.
Suatu sore, ketika Andika membantu memperbaiki sesuatu
di rumah, Pak Sutrisno berkata,
“Kamu serius?”
Andika mengangguk.
“Saya serius, Pak.”
“Jangan main-main.”
“Saya tidak akan.”
Pak Sutrisno mengangguk.
“Kalau begitu, buktikan.”
Andika tersenyum.
“Saya akan berusaha.”
Tidak ada kata yang terlalu besar.
Tidak ada janji yang berlebihan.
Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat Susanti
perlahan percaya.
Ia mulai memahami bahwa cinta tidak selalu ditunjukkan
dengan kata-kata indah.
Kadang cinta adalah seseorang yang tetap datang.
Tetap bertahan.
Tetap berusaha.
Terutama ketika keadaan tidak mudah.
Senja kembali turun di Kota Kuala Kapuas.
Susanti duduk di tempat yang sama seperti
berbulan-bulan lalu.
Namun kali ini, ia tidak sendirian.
Andika duduk di sampingnya.
Mereka memandang langit yang perlahan berubah warna.
“Kamu diam saja dari tadi,” kata Andika.
“Sedang berpikir.”
“Memikirkan apa?”
“Banyak.”
Andika tersenyum.
“Termasuk aku?”
Susanti meliriknya.
“Kamu percaya diri sekali.”
“Karena aku tahu.”
Susanti tersenyum.
Kemudian ia menjadi serius.
“Dika.”
“Ya?”
“Kalau waktu bisa diputar kembali, mungkin aku tidak
ingin mengenalmu.”
Andika terdiam.
Susanti tersenyum kecil.
“Karena mengenalmu ternyata menyakitkan.”
Andika menundukkan kepala.
“Aku tahu.”
“Tapi…”
Andika menoleh.
Susanti memandang langit.
“Kalau aku tidak mengenalmu, mungkin aku juga tidak
akan tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan begitu dalam.”
Andika diam.
“Kadang aku masih marah ketika mengingat semuanya.”
“Aku mengerti.”
“Aku masih takut.”
“Aku tahu.”
Susanti menatapnya.
“Tapi entah kenapa…”
“Apa?”
“Aku masih memilihmu.”
Andika tersenyum.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa?”
Susanti tersenyum.
“Karena aku sudah terlanjur sayang.”
Andika tertawa kecil.
Lalu ia menggenggam tangan Susanti.
“Kalau begitu, jangan lepaskan lagi.”
Susanti memandang tangan mereka.
“Kamu yang dulu melepaskan.”
Andika terdiam.
“Dan aku tidak akan melakukannya lagi.”
Angin sore berembus pelan.
Di kejauhan, suara kendaraan dan aktivitas masyarakat
masih terdengar.
Kota Kuala Kapuas tetap berjalan seperti biasa.
Orang-orang tetap bekerja.
Tetangga tetap berbicara.
Waktu tetap bergerak.
Namun, bagi Susanti, ada sesuatu yang telah berubah.
Ia akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu datang
dalam keadaan sempurna.
Kadang cinta datang dengan luka.
Dengan salah paham.
Dengan air mata.
Dengan perdebatan panjang.
Dengan perpisahan yang hampir terjadi.
Namun, cinta juga dapat menemukan jalannya kembali.
Asalkan dua hati yang saling mencintai berani berhenti
lari dari perasaan mereka sendiri.
Susanti menatap Andika.
“Kamu tahu apa yang paling aku benci?”
“Apa?”
“Kamu.”
Andika tertawa.
“Aku juga.”
Susanti memukul lengannya pelan.
“Serius.”
“Kenapa?”
“Karena kamu membuat hidupku terlalu rumit.”
Andika tersenyum.
“Maaf.”
“Sudah terlambat.”
Andika memandangnya cemas.
Susanti kemudian tersenyum.
“Maksudku, sudah terlambat untuk pergi.”
Andika tersenyum lega.
“Kenapa?”
Susanti menggenggam tangannya lebih erat.
“Karena aku sudah terlanjur sayang.”
Dan di bawah langit senja Kota Kuala
Kapuas, di antara kenangan, luka, pertengkaran, air mata, keluarga, sahabat,
dan suara kehidupan masyarakat yang terus berjalan, dua hati yang hampir
kehilangan satu sama lain akhirnya memilih untuk tetap tinggal.
Bukan karena perjalanan mereka selalu mudah.
Bukan karena mereka tidak pernah terluka.
Tetapi karena setelah semua yang terjadi, mereka
akhirnya mengerti satu hal.
Bahwa terkadang, cinta yang paling sulit untuk
diperjuangkan adalah cinta yang paling sulit pula untuk dilupakan.
Dan ketika seseorang telah benar-benar terlanjur
sayang, pergi bukan lagi persoalan melangkah menjauh.
Melainkan persoalan apakah hati benar-benar sanggup
meninggalkan seseorang yang telah terlalu lama menjadi bagian dari hidupnya.
Susanti tersenyum.
Andika membalasnya.
Senja perlahan berubah menjadi malam.
Namun, untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, Susanti tidak lagi takut pada gelap.
Sebab kali ini, seseorang yang pernah
hampir ia lepaskan telah memilih untuk tinggal.
Dan seseorang yang pernah membuatnya
terluka telah belajar untuk tidak lagi menjadikan cintanya sebagai sesuatu yang
setengah-setengah.
Di bawah langit Kuala Kapuas, mereka berjalan pulang.
Berdampingan.
Tanpa terburu-buru.
Tanpa janji yang terlalu tinggi.
Hanya dengan satu keyakinan sederhana.
Bahwa selama mereka masih saling
menjaga, masih saling mendengarkan, dan masih berani memperjuangkan apa yang
mereka rasakan, mungkin cinta itu akan menemukan jalannya.
Dan Susanti tahu, apa pun yang akan
terjadi setelah hari itu, satu hal tidak akan pernah bisa ia ingkari.
Ia pernah terluka.
Ia pernah ingin pergi.
Ia pernah mencoba membenci.
Namun, pada akhirnya, hatinya tetap memilih satu nama.
Andika.
Sebab kepada laki-laki itulah, tanpa ia sadari, ia
telah memberikan terlalu banyak bagian dari hatinya.
Dan semuanya sudah terlambat untuk ditarik kembali.
Karena Susanti…
telah benar-benar,
terlanjur sayang.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar